Peristiwa Pencoretan Cathlyn Yvaine Lesmana dari Calon Paskibraka Nasional
Kabar pencoretan Cathlyn Yvaine Lesmana dari calon Paskibraka tingkat nasional dari Sulawesi Selatan (Sulsel) akhirnya menyebar hingga ke telinga Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin. Ia menyampaikan harapan agar proses seleksi berjalan secara adil dan transparan. Hal ini menjadi perhatian serius karena Cathlyn sebelumnya dianggap memiliki nilai yang memadai dalam seleksi.
Munafri mengungkapkan bahwa peserta dari Makassar harus diberi kesempatan untuk ikut serta dalam seleksi. Ia juga menyoroti bahwa Cathlyn dinilai memiliki nilai yang cukup baik. “Ini adalah delegasi dari Kota Makassar yang dikirim seleksi. Masa tidak ada? Kita berharap hasil seleksi semuanya fair (adil),” ujarnya.
Sebelumnya, Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) dan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Makassar memprotes pencoretan nama Cathlyn. Pasalnya, Cathlyn sebelumnya masuk tiga besar peserta putri yang diusulkan mengikuti seleksi calon Paskibraka tingkat nasional. Namun, pada hasil akhir, ia tidak masuk daftar dan digantikan oleh siswi asal Kabupaten Jeneponto.
Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Makassar, Muhammad Fahmi, menilai ada kejanggalan dalam proses seleksi. Menurutnya, mekanisme penilaian tidak terbuka. Para pendamping dari peserta seleksi tidak diperbolehkan masuk saat penentuan tiga besar calon Paskibraka nasional. “Tim penilai kan banyak unsur, dari informasi kami himpun. Teman-teman tidak bisa masuk dalam ruang penilaian,” ujar Fahmi.
Fahmi juga mempertanyakan indikator penilaian, salah satunya adalah kemampuan menguasai bahasa daerah. Ia mengatakan hal itulah yang berpengaruh pada kelulusan Cathlyn Yvaine Lesmana. Padahal, kata dia, Cathlyn menguasa bahasa Inggris dan Mandarin. “Masa kalah karena tidak bisa bahasa daerah. Ini kita pertanyakan apakah bahasa daerah jadi indikator wajib dikuasai?” tanya Fahmi.
Meski batal berangkat ke tingkat pusat, Cathlyn dikabarkan tetap bertugas sebagai anggota Paskibraka tingkat Provinsi Sulsel.
DPRD Sulsel Akan Gelar Rapat Dengar Pendapat
Di sisi lain, DPRD Sulawesi Selatan menyatakan akan menelusuri polemik tersebut hingga tuntas. Pihak dewan juga berencana menggelar rapat dengar pendapat bersama Polda Sulsel dan seluruh panitia seleksi Paskibraka. “Kami akan agendakan nanti di hari Selasa tanggal 2,” ujar anggota Komisi C DPRD Sulsel Andre Prasetyo Tanta.
Klarifikasi dari Kepala KesbangPOL

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulawesi Selatan (Sulsel) Bustanul Arifin menegaskan, proses seleksi calon Paskibraka tingkat nasional berlangsung transparan. Ia juga memastikan tidak ada unsur diskriminasi seperti yang ramai dibicarakan di media sosial.
Menurut Bustanul, informasi yang menyebut adanya pergantian peserta atau penghapusan nama tertentu tidak benar karena hingga saat itu belum pernah ada pengumuman resmi hasil akhir seleksi. Ia menjelaskan, peserta yang merasa sudah masuk 10 besar sebenarnya hanya menjalani tahapan pendalaman dari tim pusat.
“Kalau penggantian berarti kan ada pengumuman awal lalu diganti pengumuman baru. Sampai kemarin memang belum ada pengumuman,” ujarnya dalam acara Sapa Indonesia Malam Kompas TV, Rabu (27/5/2026).
Bustanul menerangkan, pemanggilan peserta dalam kelompok tertentu saat seleksi bukan penentuan final. Tim pusat disebut memanggil beberapa peserta secara bergelombang untuk pendalaman yang lebih komprehensif.
Pertanyaan Bahasa Daerah Hanya Basic
Bustanul juga menepis anggapan bahwa kemampuan bahasa daerah menjadi syarat kelulusan. Menurut dia, bahasa daerah hanya muncul sebagai pertanyaan basic karena peserta nantinya akan mewakili daerah masing-masing di tingkat nasional. “Itu bukan menjadi syarat. Tetapi pada saat itu dipertanyakan sebagai pertanyaan basic untuk mewakili provinsi,” katanya.
Terkait hasil penilaian, Bustanul mengatakan seluruh peserta yang mengikuti tahapan di tingkat provinsi sebenarnya dinyatakan lolos sebagai Paskibraka Provinsi Sulsel. Namun, hanya tiga pasang putra-putri dengan nilai tertinggi yang berhak dikirim ke tingkat nasional sesuai kuota yang diberikan.
Ia menyebut nama Cathlyn berada di peringkat ketujuh berdasarkan akumulasi nilai dari seluruh aspek penilaian. Oleh karena itu, peserta tersebut tidak masuk daftar yang dikirim ke pusat.
KesbangPOL Bantah Ada Diskriminasi
Bustanul memastikan seluruh dokumen penilaian tersedia dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia bahkan mengaku siap menjelaskan proses seleksi kapan saja apabila yang dipersoalkan hanya mekanisme penilaian.
“Tapi, ini menyangkut rasisme, ada unsur rasis di dalamnya sehingga saya kurang enak untuk mendengar itu,” katanya.
Ia menilai tudingan diskriminasi tidak berdasar karena Cathlyn tetap lolos di tingkat provinsi dan masuk dalam daftar peringkat peserta terbaik. Menurut dia, jika memang ada diskriminasi, seharusnya peserta tersebut tidak akan lolos sejak awal seleksi provinsi.
Bustanul juga membantah adanya campur tangan orang dalam untuk meloloskan peserta tertentu ke tingkat nasional. Ia menyebut seluruh tahapan berjalan sesuai prosedur dan seharusnya pihak yang keberatan menempuh jalur resmi, bukan menggiring persoalan ke media sosial.
“Kami pastikan tidak ada faktor diskriminasi atau hal apapun di belakangnya,” ucapnya.
Posting Komentar untuk "Cathlyn Yvaine Dicoret dari Paskibraka Nasional, Wali Kota dan DPRD Makassar Bereaksi"